Skip to content
Jul 31 12

Why some leaders cheat ?

bita.budiariani

Mengapa seorang pemimpin mengambil langkah yang melewati batas peraturan yang ahirnya berbuah kecurangan dalam bisnis dan merugikan perusahaan?

Apakah sekedar rakus dan mengambil keuntungan menjadi motif dasar yang melekat? yang saya yakin itu dimiliki oleh semua orang bukan hanya oleh level pimpinan..sehingga korupsi dapat terjadi pada semua orang pada setiap level dalam organisasi.

Jadi apa sebenarnya membuat seorang pemimpin melakukan hal ini? mari coba kita telaah lebih lanjut..

Menurut definisinya pemimpin adalah  is “a person who influences a group of people towards the achievement of a goal”, dengan definisi diatas dimana perannya adalah memastikan adanya orang yang ter-motivas untuk mengikuti dirinya maka sebenernya definisi pemimpin sebagai seseorang yang melakukan segala langkah untuk memastikan bahwa perusahaan yang dimilikinya memiliki keuntungan dengan alasan bahwa demi kesejahteraan karyawan bukan merupakan definisi dari seorang pemimpin.

Kenapa pertanyaan ini muncul terus didalam benak saya adalah karena, saya memiliki bayangan bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki pengikut, memiliki sekelompok orang yang mengikutinya karena ter-motivasi olehnya sehingga pada saat dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan jalurnya akan banyak orang yang bicara bahwa tidak apa saya berlaku seperti itu karena itu yang dilakukan pemimpin saya.

Kembali kepada definisi pemimpin, kalau saya boleh mengaitkan kepada agama dalam hal ini…membuat saya berpikir bahwa memang benar yang masuk dalam definisi pemimpin adalah yang kita katakan seperti Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa ( Yesus) atau seperti  Sidharta Gautama yang memang membuat orang lain termotivasi dan bukan membuat dirinya superior seperti layaknya pemimpin- pemimpin kita saat miliki saat ini.Dan berarti dengan definisi pemimpin yang ada diatas, maka sebenarnya ujian seorang pemimpin adalah memastikan bahwa dia memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain menuju satu tujuan yang sama..yag saya harap adalah tujuan yang baik tentunya..bukan tujuan menyimpang… :)

Jul 20 12

Am I mature enough?

bita.budiariani

I learnt that not all adults will be a mature person…

Saya dewasa, saya seharusnya sudah “matang” secara emosional dan pemikiran. Saya bukan lagi anak-anak yang tidak bisa membedakan situasi kapan saya harus marah, kapan saya harus diam, dan kapan saya harus bertindak.

Tapi kenyataan pada saat saya memasuki usia yang sudah kepala 3 ini..dikelilingi oleh orang-orang yang tentunya jauh sudah lebih “dewasa” secara fisik daripada saya dalam lingkungan yang profesional. Bukan itu yang saya lihat dan rasakan.

Apa sih sebenarnya arti kedewasaan?atau kalau dalam bahasa Indonesia biasanya dikaitkan dengan kematangan :

Kedewasaan pemikiran :ki matang (tt pikiran, pandangan, dsb): cara berpikirnya sudah –;

kematangan jiwa : keadaan individu dalam perkembangan sepenuhnya yang ditandai oleh kemampuan aktual dalam membuat pertimbangan secara dewasa 
kematangan sosial :perkembangan seseorang yg terlihat dr adanya perasaan penilaian diri dan adanya kemampuan untuk membawakan diri secara wajar dl kelompok atau lingkungan sosial yg berbeda; 

Pada saat kita mengatakan diri kita sudah dewasa dengan pemahaman kalimat yang ada berarti kita sudah mampu untuk membedakan situasi kapan dan bagaimana kita harus bertindak bergantung kepada situasi yang kita hadapi. Tentunya untuk bisa menghadapi situasi tersebut kita perlu mengendalikan emosi, pikiran dan kesadaran diri kita sehingga kita dapat mengontrol diri kita untuk tetap tenang dan berpikir secara “dewasa” sehingga dapat menghadapi situasi dengan sikap yang “dewasa” pula.

Bahkan dalam lingkungan profesionalisme dimana tentunya diisi oleh orang-orang dengan latar belakang yang pastinya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, kadang kata kedewasaan ini sudah mulai pudar. Hal ini yang banyak terjadi di-sekeliling kita. Apakah kedewasaan datang bersamaan dengan usia kita? rasanya kalimat ini menjadi tidak sesuai dengan keadaan yang saya alami.

Dan hal yang membuat situasi menjadi lebih kompleks adalah kita secara individu agak sulit untuk mengukur kedewasaan diri yang kita miliki. Kita perlu orang lain yang ada di-sekeliling kita untuk memberikan masukan akan kedewasaan kita. Pada saat inilah penilaian bagaimana kita  mengontrol diri dan  berperilaku menjadi hal yang penting untuk kita. Kesadaran diri adalah hal yang mahal untuk dipelajari, yang paling penting tentunya bagaimana kita bisa menyadari kedewasaan kita adalah hal yang jauh lebih penting.

Jul 20 12

Leaders: are we borned or we developed?

bita.budiariani

Mengapa menjadi pemimpin ideal sangatlah sulit ?

Pertanyaan itu muncul cukup banyak saat ini di dalam benak setiap orang terutama saat mereka dihadapkan kepada situasi dimana mereka perlu memimpin orang lain dan pada saat yang bersamaan mencapai target yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kesulitan yang muncul tersebut terkadang menyebabkan seseorang yang sebelumnya adalah karyawan ideal dengan pencapaian luar biasa  menjadi tidak luar biasa pada saat mereka berada pada pucuk pimpinan atau menjadi pimpinan suatu unit.

Sebenarnya apakah seorang pemimpin dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau sebenarnya bisa dibentuk oleh lingkungan dalam hal ini organisasi ? Pertanyaan yang masih menjadi perdebatan ini, kemungkinan dapat dijawab dengan pemahaman akan apa yang menjadi kriteria ideal sebagai seorang pemimpin :

  1. Pada saat berada di pucuk pimpinan, seseorang memiliki kewenangan dalam menentukan bagaimana dia akan memimpin unit kerjanya. Saat seperti itulah biasanya individu akan cenderung mengeluarkan apa yang menjadi karakternya sehingga terbentuklah gaya kepemimpinan yang paling sesuai baginya. Pada saat inilah seorang pemimpin perlu memahami situasi dan kondisi unit kerjanya sehingga dia dapat menyesuaikan gaya kepemimpinan-nya  dengan situasi yang dihadapinya. Dalam hasil riset yang dimiliki ter-identifikasi adanya 6 gaya kepemimpinan yang sebaiknya dimiliki oleh pemimpin. Gaya kepemimpinan ini yang dapat menjadi modal dasar bagi pemimpin untuk dapat memimpin unit kerjanya dengan lebih maksimal. Apakah yang ideal memiliki semua, jawaban yang bisa kita katakan ke diri kita adalah ya, dengan pertimbangan bahwa setidaknya kita dapat melatih mereka untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalaman dan kondisi yang kita miliki.
  2. Saat menjadi pemimpin kita selalu memiliki argumen bahwa kita dihadapkan dengan situasi dan kondisi yang memaksa kita harus memimpin dengan gaya tertentu. Banyak argumen yang dimiliki mulai dari besarnya wilayah yang harus kita pimpin, jumlah orang dan kemampuan orang yang kita pimpin dan sebagainya. Pemikiran bahwa kita harus mengikuti keadaan dan menyerah dengan keadaan yang ada terkadang membuat kita lebih menutup diri bahwa kita bisa dan harus berubah.
  3. Target yang begitu tinggi membuat pemimpin merasa bahwa tidak perlu pusing memikirkan keinginan untuk menjadi pemimpin yang ideal karena pencapaian target yang saya dapatkan akhir tahun akan membuat saya secara otomatis menjadi pemimpin yang baik. Pemikiran yang ada dapat menjadi tembok yang tebal bagi seseorang untuk tumbuh dan berkembang apalagi menjadi seorang pemimpin yang ideal. Seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menjadi pemimpin yang baik bagi anak buahnya dan disaat yang bersamaan dapat membantu tim-nya untuk mencapai target yang telah diberikan kepadanya. Hal ini yang terkadang sulit untuk dilakukan, karena sebagai pemimpin hal ini bukan lagi menjadi keberhasilan saya namun keberhasilan tim saya.
  4. Pada saat seorang menjadi pemimpin, satu hal yang biasanya tidak muncul pada saat dia menjadi karyawan adalah rasa egoisme dan pemahaman bahwa saya adalah yang terbaik. Hal ini yang menjadi penutup mata bagi pemimpin untuk melihat dan belajar dari orang lain apalagi dari bawahannya. Sehingga muncullah jargon “pemimpin yang tidak mendengarkan aspirasi karyawan”, padahal pada saat kita menduduki posisi puncak saat inilah kemampuan kita untuk mendengar dan berempati serta mengesampingkan ego kita kan jauh lebih harus didahulukan daripada saat kita menjadi karyawan.
Kompleksitas yang muncul pada saat kita menduduki posisi puncak membuat beberapa orang yang sangat potensial dan menunjukkan kemampuan kerja yang cemerlang saat menjadi karyawan menjadi luntur pada saat menjadi seorang pemimpin.
Hal ini yang membuat saya yakin bahwa sebenarnya menjadi seorang pemimpin ideal bukanlah semerta-merta terjadi dan pemimpin tidak dapat dibentuk. Namun dengan keinginan belajar dan mau berkembang dengan menyadari apa yang menjadi kemampuan dan menyampingkan egoisme kita sebagai pemimpin dapat membantu kita untuk menjadi pemimpin yang ideal.
Feb 22 12

Belajar menjadi Tuhan

bita.budiariani

Judul diatas adalah gambaran “concern” saya terhadap dunia ini.

Akhir-akhir ini yang tergambar dimata adalah banyak orang yang mencoba belajar menjadi Tuhan. Bayangkan, adanya satu orang yang menghakimi orang lain, membentuk dan mempengaruhi orang lain agar menyukai atau tidak menyukai orang lain. Dimana hal ini menurut saya adalah hak prerogatif  Tuhan semata.

Bukan berarti saya orang suci yang tidak senang mendengar infotainment dimana setiap orang menghakimi orang lain dan membicarakan orang lain, namun saat sadar dan saat saya menulis ini berarti saya sedang sadar bahwa tidak sedikit orang yang sedang belajar menjadi Tuhan. Mungkin termasuk saya didalamnya.

Tuhan menurut saya adalah satu-satunya elemen dalam kehidupan ini yang mampu dan harusnya pemilik tunggal kemampuan itu, sebagai manusia yang kecil dan masih bodoh ini bukan hal kita untuk menilai bahwa seseorang lebih baik ataupun lebih jelek daripada kita. Apalagi menghakimi bahwa seseorang bersalah ataupun tidak bersalah. Tunggu dulu bukan berarti saya tidak setuju dengan pekerjaan hakim – karena mereka melakukan penghukuman yang benar adalah berdasarkan kepada norma maupun peraturan yang dibuat- dimana peraturan tersebut sudah dikombinasikan dengan agama – yang juga menjadi hak prerogatif Tuhan. Sehingga hal ini jangan diperdebatkan lagi.

Namun saya mencoba menyorot kita sebagai makhluk hidup yang belajar menjadi Tuhan secara terselubung dimana menghakimi orang lain bahwa dia memiliki perilaku dan pemikiran yang buruk tanpa ada bukti perilaku yang nampak. Contoh yang mudah digambarkan, pada saat kita bilang seseorang jelek, menurut orang yang mengasihi-nya orang tersebut cakep kok.Pada saat kita bilang penjahat itu jahat dan bermental kasar, kepada istri dan anaknya dia menjadi bapak yang dibanggakan. Gambaran ini yang seharusnya membuat kita berpikir sungguh kecil kuasa kita untuk dapat melihat keseluruhan seseorang hanya dari kemampuan indera atapun perasaan kita. Saya memiliki kekhawatiran pribadi yang tidak semua orang harus setuju, bahwa sekarang banyak orang yang belajar menjadi Tuhan, dan berpikir bahwa dia mampu menjadi mempengaruhi orang lain dan juga menghakimi orang lain atas sesuatu yang kita belum tau telah dilakukan atau belum dilakukan.

Saya bukan Tuhan, kita semua bukan Tuhan..saya tidak selalu benar..dan benar atau salah tetap bukan saya yang akan memutuskan..ada elemen yang kuat dalam kehidupan ini yang menurut saya punya kuasa PENUH atas hal ini..siapa lagi kalo bukan Tuhan YME

Feb 22 12

Saat senyuman bukan lagi harapan

bita.budiariani

Mencoba memahami dan mengerti tingkah dan pola hidup dari masyarakat sekitar kadang menarik dan membantu diri untuk lebih memahami mengenai kehidupan.

Salah satu topik yang terus berdengung saat ini adalah mengenai kemiskinan, konsumerisme dan akhinya akan terkait dengan satu kata yang paling ditakuti semua orang, korupsi. Belum lagi nanti oleh orang lain akan disambungkan lagi kepada tingkat pendidikan, agama dan lain-lain..semakin banyak diturunkan semakin besar kemungkinan kita untuk diadu domba.

Mengapa begitu?sebagai contoh..dengan tingginya tingkat korupsi di Indonesia maka ada yang menyalahkan tingkat pendidikan masyarakat kita yang katanya masih rendah, sehingga mudah dibodohi. Ada pula yang beranggapan bahwa karena norma-norma agama sudah merendah. Dengan isu-isu yang beredar masyarakat akan semakin bingung sehingga akan semakin mudah diadu domba.Sebenernya apa sih akar pemasalahan dari semua ini? Rasanya kok belum pernah ditemukan jawabannya, dimanapun juga. Di koran semua membahas mengenai tragedi masyarakat kita yang secara moral menurun tapi tetap saja jawaban dari semua ini tidak pernah ada jawabannya.  

Makanya saya ingin memulai dari diri saya sendiri, semua elemen itu rasanya memang terkait, namun jangan menyalahkan sistem- misal sistem pendidikan yang tidak baik- sistem agama yang tidak kuat- sistem sosial yang tidak mendukung. Terlalu banyak yang menyalahkan sistem, dan sistem lagi. Namun saya mencoba kembali ke diri sendiri, apa yang say apunya itu menjadi modal saya untuk bisa ataupun tidak bisa melakukan sesuatu. Saya salah satu orang yang pecaya bahwa kesadaran diri tidak mudah dibentuk, namun kesadaran diri adalah modal dasar kita untuk bertindak dan berperilaku. Kalau memang kita sadar bahwa kita tidak mampu menahan godaan apalagi yang terkait dengan uang- jangan kita masuk kedalam dunia yang memaparkan kita terhadap kesempatan untuk disuap. Sekali masuk kemungkinan besar kita akan terjerembap. Tidak mudah karena pada akhirnya kita pasti akan mengikuti norma umum dalam masyarakat. Namun saya sednag belajar untuk itu. Memiliki kesadaran diri sehingga dapat menyusun perencanana buat hidup. Start from yourself..Don’t blame the system..Buat hidup kita lebih berarti sehingga setiap senyuman yang diberikan kita kepada orang lain dapat menjadi harapan bagi orang lain.

Jan 3 12

our uniqueness

bita.budiariani

People are different…

yes so many complex thing coming up to mind when we talk about people. I believe they have their own agenda in life which it might something that are nice to society but can be not.

I just got a recent sms (as you knwo now people see telephone as their life, not only a tools to communicate). I dont like the word written in the sms…it’s about the person asked something that I prefer not to answer, which is my preference not to answer,but the person suddenly mad and just throwing a bad word that a person can say  to otehr person. I dont like it..

But, when I think about it again…I think he has his own agenda and also his own feeling to be explore. He want to be recognized, he wants to be needed by others.

I found it sitting in a mall/restaurant is a fun way to wanting your time..just to watch how people interact withe otehr..they are unique..like us..we all unique..that ho GOD AL MIGHTY creating us…He’s so amazing…nobodyis the same..they all deffirent by physic and also by mind….see how GOD do exist…

And when I was sitting in the mall..I can see that a person smile happy to the opposite site, and also some who mad to the opposite site..the emotion is so different, and their faces sometimes whos what is inside their mind…(why I say sometimes?) because we used to definition of poker face already.. :) I cant argue on that…it does exist.

And then, I started to realize that we are unique..so dont ever thing try to make your tought or idea or even your emotion to be unerstood by others…it wont happen..we just different..we always be different…and having the differences,is teh beauty of life…

Jul 1 11

Is a great leader born that way?

bita.budiariani

This journey is just a note from based from my observation, there’s nothing related to the research or any scientific knowledge. But as many persons believe that sometimes what we call observation and perception describing the real situation right?

The questions that remain in people mind are still will be? Is a great leader born as a leader? Nobody can answer the questions. People still arguing about it and somehow no theory that can give the evidence and show the answer to the questions. But my mind keep drifting to the realistic information that I can get from my surrounding, I hear the theory of “Rich Dad Poor Dad”.Hmm that might be also true, part of my brain believe that is true. Then in my workplace I heard the word “competencies” than my other part of brain also believes it’s true. Meanwhile if we really understand about the definition or try to understand the theory actually both are opponent and totally back to back.

In my daily life, I can find that not all the “Rich Kid” are becoming a Rich Dad” also, sometimes they also fail, meanwhile if we found an individual with great competencies (whatever you called the definition : behavior competencies/emotional competencies) with no opportunities and some people called it “luck” still he/she just becoming a normal and regular person. Yes, he/she might shown something different with others but still not becoming an extraordinary person.

Then the questions AGAIN will remain the same? Is a great leader is born as a leader? Or just LUCK from God?

As a professional I don’t think we can believe that statement, but in my work life, I can say that we can develop a leader. Even though my ¼ brain still doubt about this. If you can see through my brain you can see how it tries to divide each of the information and how I believe the information’s. But in reality it’s something that I always said to others that YES we can develop a leader. But still I always said it’s not a one way process but you need to see the environment and how the other element can support the development process. If we think it clearly…AGAIN…still no clear and direct can answer to the questions that we keep mentioning in the beginning. Still is a great leader born that way? Is the DNA already there? Nobody knows. I don’t think I know it also.

But still I believes one thing, that I can be created through many things, not just one element..He/she need the opportunity to learn and develop him/her self, He/she need to have the luck, He/she also need what we call the DNA, that can be build thorough experiences, environment, etc..That is when the term of Rich Dad Poor Dad becomes align. And at the end, a GOOD LEADER should show what it calls a results. Still no results nobody will call you that right..I’m a non believer of non target oriented leader..just motivator leader..not enough leader for me …(I still can have my opinion right?)

Jul 1 11

Hello world!

bita.budiariani

Welcome to Blog.com.

This is your first post, produced automatically by Blog.com. You should edit or delete it, and then start blogging!